Retribusionisme

Retribusionisme berarti hukuman mati untuk sejumlah kejahatan. Tujuannya untuk menghukum, bukan mengobati atau melindungi orang yang tidak bersalah. Allah memberikan pemerintahan manusia dan memberinya otoritas besar yang bertujuan untuk menangani kejahatan-kejahatan besar. Allah berkata kepada Nuh, “dari setiap manusia Aku menuntut nyawa sesama manusia.” Jadi bagi yang membunuh sesama, Allah akan mengambil nyawanya. Karena Allah membuat manusia menurut gambar-Nya (Kejadian. 9:5-6).

 

Hal tersebut lalu dimasukkan ke dalam hukum Musa, yang mencakup sejumlah kejahatan besar, termasuk pembunuhan(Kel.21:12), membalas kematian, menyebabkan keguguran(Kel.21:22-23), dan kesaksian palsu dalam kasus besar(Ul.19:16-19). Hukuman mati adalah untuk kejahatan besar. Pemerintah adalah pedang Allah untuk kejahatan besar.

Dasar-dasar alkitabiah untuk hukuman mati

  • Perlunya hukuman mati terkandung di dalam natur manusia. Manusia diciptakan segambar dengan Allah, berarti membunuh manusia sama saja dengan menyerang Allah. Untuk hal ini Allah menuntut suatu hukuman mati (Kejadian 9:6). Hal ini terlihat jelas dalam kasus Kain, pembunuhan pertama.

    Kain dalam kasus ini pun mengharapkan hukuman mati terhadap dirinya. Tapi pada saat itu tidak ada pihak berwenang/pemerintah yang berhak melakukan hukuman itu terhadap Kain. Dan pada saat itu Allah pun mengubah hukuman mati yang pantas diterima Kain. Sekalipun begitu konteksnya membuktikan bahwa kain layak mendapatkan hukuman mati.

  • Allah memberikan kuasa untuk menghukum mati kepada pemerintahan manusia. Ada hukuman mati sebelum zaman Nuh, tetapi hak itu diberikan kepada kerabat korban sendiri (Kejadian 4:14). Tetapi kemudian Allah memindahkan hak tersebut kepada pihak berwenang/pemerintah karena itu akan menjadi lebih adil, objektif, dan tidak melibatkan rasa emosional dari hati.
  • Hukuman mati dimasukkan ke dalam hukum Musa. Allah membuat pengecualian kepada bangsa Israel/ bangsa pilihan-Nya. Allah tidak memerintahkan Musa untuk menetapkan hukuman mati untuk kejahatan besar. Ia hanya memerintahkannya untuk memasukkannya ke dalam hukum-Nya. Tetapi Ia memang memperluas hukuman mati sampai pada kejahatan-kejahatan yang tidak besar.

    Evaluasi tentang retribusionisme-kritik negative:

  • Hukuman mati adalah hukuman yang kejam dan luar biasa. Prinsip Nyawa ganti nyawa yang dijalankan pada hukuman mati bertentangan pada Hak Asasi Manusia dan caranya sadis.
  • Hukuman mati diterapkan secara tidak adil. Keadilan harus tetap berjalan meski beberapa pelaku kejahatan harus mati. Jika penerapannya kurang adil, maka kesalahan terletak pada proses peradilan, bukan pada hukuman yang dijatuhkan.
  • Hukuman mati tidak menghalangi kejahatan. Hukuman mati tidak dilaksanakan dengan cukup luas dan cepat agar menjadi ancaman yang nyata.
  • Hukuman tidak Alkitabiah, setidaknya untuk saat ini. Hukuman mati sudah bukan lagi untuk kejahatan-kejahatan kecil, tetapi hanya untuk kejahatan besar.
  • Hukuman mati berlawanan dengan konsep pengampunan. Jika penjahat berhasil bertobat dan dipulihkan apakah tidak boleh mendapatkan pkesempatan kedua?
  • Hukuman mati mengabaikan mereka yang sakit pikiran. Orang gila tidak bisa dijatuhi hukaman mati karena dia tidak punya tanggung jawab, kecuali gila sementara atau dalam kata lain kehilangan kesadaran sementara karena adanya luapan emosi.

Evaluasi terhadap retribusionisme-kontribusi positif:

  • Hukuman mati didasarkan pada penghargaan yang tinggi pada kemanusiaan. Hal ini menunjukan berapa tinggi label harga yang ditetapkan Allah untuk manusia ciptaan-Nya. Karena nyawa manusia tidak ternilai dan hanya bisa digantikan/dibalas dengan nyawa sesama manusia.
  • Hukuman mati menghargai pelaku kejahatan. Penjahat bukan bayi, hewan peliharaan, atau orang bodoh yang harus dirawat atau disembuhkan. Mereka sengaja berbuat salah dan patut mendapatkan hukuman.
  • Hukuman mati bertindak berdasarkan pandangan yang benar mengenai keadilan. Hukuman diberikan kepada orang bersalah yang layak mendapatkannya dengan menjunjung nilai hukuman, bukan perbaikan. Tujuan utamanya adalah moral, bukan terapi.
  • Hukuman mati menghalangi kejahatan. Bagaimanapun alasan yang diberikan berbagai pihak kontra terhadap hukuman mati, hukuman mati terbukti menghalangi kejahatan. Para pelaku akan jera melakukan kejahatan karena tahu akan menerima hukuman yang berat.
  • Hukuman mati melindungi nyawa orang yang tidak bersalah. Pertama, menghargai nyawa korban. Kedua, memberi rasa gentar kepada calon pembunuh. Ketiga, menghukum sang pembunuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s