Rehabilitasionisme

Pandangan ini adalah pandangan yang bertentangan dengan hukuman mati, dengan prinsip bahwa tujuan keadilan adalah rehabilitasi dan bukan retribusi. Dengan kata lain kita penjahat seharusnya diperbaiki, bukan menghukumnya, atau paling tidak bukan dengan hukuman mati.

Pandangan Alkitab untuk Rehabilitasionisme

  • Tujuan keadilan adalah untuk memperbaiki, bukan untuk menghukum. Yehezkiel menyatakan bahwa Allah tidak “berkenan kepada kematian orang fasik” melainkan “kepada pertobatannya supaya ia hidup” (18:23). Allah ingin menyembuhkan orang berdosa, bukan membunuhnya
  • Hukuman mati dihapus dalam hukum musa. Hukuman mati dianggap sistem hukum di perjanjian lama yang dihapuskan oleh Kristus. Yesus telah menolak prinsip musa “mata ganti mata” (Mat. 5:38). Sebagai ganti retribusi, Yesus Menyatakan, “janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (ayat 39)
  • Hukum musa mengenai hukuman mati tidak dipraktikkan saat ini. Perjanjian lama menentukan hukuman mati untuk dua puluh kejahatan. Tetapi tak seorang pun benar-benar yakin bahwa semuannya masih berlaku sekarang. Jadi tak satupun yang harus dipraktikkan.
  • Hukuman mati mengirim orang-orang yang tidak percaya ke neraka. Hukuman mati merupakan hukuman yang teramat jahat bagi orang Kristen shingga tak layak didukung. Karena menurut Alkitab, orang-orang yang tidak percaya akan dihukum selamanya.
  • Yesus menghapuskan hukuman mati karena perzinaan. Perzinaan termasuk salah satu kejahatan yang patut dijatuhi hukuman mati menurut perjanjian lama. Tetapi ada anggapan bahwa Tuhan menghapuskan syarat ini ketika ia membebaskan seorang wanita yang kedapatan berzina dari hukuman mati.
  • Kain dan Daun tidak dijatuhi hukuman mati. Kain membunuh Habel, sedangkan Daud melakukan perzinaan dan pembunuhan. Akan tetapi Tuhan tidak membunuh mereka. Ia justru melindungi Habel dan mengampuni Daud.
  • Allah telah menggantikan kita di kayu salib. Pengorbanan Allah untuk mati di kayu salib merupakan penebusan bagi dosa manusia. Sehingga sejak saat itu tidak ada lagi hukuman mati.

Pandangan Moral untuk Rehabilitasionisme

Beberapa pandangan moral digunakan untuk menolak hukuman mati. Kebanyakan dari pandangan-pandangan tersebut selama ini telah digunakan oleh kaum rehabilitasionis untuk mempertahankan sikap ini.

  • Hukuman mati diterapkan dengan tidak adil. Kaum rehabilitasionis menolak hukuman mati jika tidak diterapkan secara adil. Jika tidak adil hukuman mati dapat digunakan sebagai alat tirani untuk menghadapi kelompok-kelompok minoritas, sebagai alat untuk mengembangkan rasisme.
  • Hukuman mati bukanlah pencegah kejahatan. Hukuman mati tidak benar-benar mencegah kejahatan karena masih ada kejahatan-kejahatan besar.
  • Hukuman mati adalah antihumanitarian (tidak manusiawi). Kalau binatang liar saja kita beri tempat berlindung dan adopsi, mengapa manusia yang tidak taat harus dibunuh? Hukuman mati adalah kejam dan tidak wajar.
  • Para Penjahat seharusnya disembuhkan, bukan dibunuh. Kaum rehabiliasionis menganggap bahwa penjahat adalah orang-orang sakit yang perlu diobati bukan dibunuh. Seperti seorang pasien yang membutuhkan dokter, bukan pemimpin penguburan, dan orang-orang sakit secara mental memerlukan psikiater, bukan eksekutor.

Evaluasi Terhadapa Pandangan Alkitab dan Moral

  • Tujuan utama dari keadilan bukanlah rehabilitasi. Kejahatan-kejahatan besar pantas dijatuhi hukuman mati, tidak ada kesempatan untuk perbaikan, karena keadilan harus diterapkan. Dan satu-satunya hal yang sesuai dengan membunuh adalah dengan menyerahkan nyawanya sendiri.
  • Hukuman mati ada sebelum Hukum Musa. Hukuman mati berlaku juga setelah Hukum Musa. Hal ini dapat kita lihat pernyataan dalam prinsip dan penerimaan dalam praktik oleh Paulus dan Yesus.
  • Keadilan yang tidak seimbang tidak meniadakan perlunya keadilan. Jika keadilan diterapkan tak seimbang, maka kita harus membuat keadilan itu seimbang, bukannya menghilangkan keadilan.
  • Hukuman mati meneguhkan martabat manusia. Sebagaimana yang dikemukakan oleh C. S. Lewis dengan tepat, “Dijatuhi hukuman, bagaimanapun beratnya, karena kita pantas mendapatkannya, karena kita harus mengetahui lebih baik, berarti diperlakukan sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.” Fakta bahwa Allah menempelkan label harga yang sedemikian tinggi pada masalah menghilangkan nyawa orang lain memperlihatkan berharganya nilai yang Ia berikan pada nyawa manusia. Maka hukuman mati merupakan penghormatan tertinggi pada martabat manusia.
  • Para Narapidana harus diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai pasien. Anggapan yang ada pada para penentang hukuman mati adalah hukuman mati merupakan dehumanisasi (perilaku tidak manusiawi). Napi bukanlah pasien tetapi manusia, mereka bukan objek untuk dimanipulasi tetapi manusia harus dihargai. Penjahat tidak sakit melainkan berdosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s